Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan
puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak
Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan
Dipterokarp Atas, hutan Montane,
dan Hutan
Ericaceous atau hutan gunung.
Posisi gunung ini
terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan
posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.
Perjalanan
Jalur awal
landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang.
Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada
setiap 100m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala.
Setelah
berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi bunga edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng.
Di sini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke
arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus.
Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru.
Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km. Di Ranu
Kumbolo dapat didirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat
danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi
hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan,
kadang burung belibis liar. Ranu
Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
![]() |
| -Ranu Kumbolo, Tombak's Photo- |
Dari Ranu
Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo
kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang
ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo
dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang
rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari
balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Pos Kalimati
berada pada ketinggian 2.700 m, disini dapat mendirikan tenda untuk
beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga
banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun. Terdapat mata
air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati
dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi.
Untuk menuju
Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok
ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1
jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang
mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi
tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan
penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian
2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit
pasir.
Dari Arcopodo
menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat
curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat
beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya
tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan
pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Pendakian
sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan
September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai
dan tanah longsor.
Gas Beracun
Di puncak
Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring
Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena
adanya gas beracun dan aliran lahar.
Gas beracun ini dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel.
Suhu dipuncak
Mahameru berkisar 4 - 10 derajat Celsius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat Celsius, dan dijumpai kristal-kristal es.
Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup
kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai.
Terjadi
letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih
aktif. Letusan berupa
asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter.
Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas
Sastra Universitas Indonesia,
meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia
meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.
Sumber : id.wikipedia.org/wiki/Semeru


Tidak ada komentar:
Posting Komentar