Henry Dunant, Bapak Pandu Dunia pernah berkata, Tidak akan hilang
pemimpin suatu bangsa bila pemudanya masih ada yang suka masuk hutan,
berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung. Nampaknya hal tersebut sangat
beliau mengerti, bahwa berkegiatan di alam terbuka akan membentuk pribadi
yang menghargai hidup.
Pribadi yang menampakan ciri -
ciri seorang pemimpin serta karakter - karakter lainnya yang peduli terhadap
lingkungan, masyarakat bawah dan sanggup bertahan dengan cobaan yang datang dan
mampu memanjemen perjalanan dengan baik dan sistematis agar tidak terjadi hal -
hal yang tidak diinginkan.
Atau coba tengok kata - kata
dari Soe Hok Gie: Patriotisme tidak mungkin tumbuh
dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat
kalau ia mengenal akan objek - objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat
dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat kerena itulah
kami naik gunung.
Banyak orang bilang mendaki gunung adalah pekerjaan bodoh serta gila,
buat capek, kotor, orang yang sering naik gunung adalah amor fati,
mencintai kematian dan berbagai macam sebutan untuk seorang pendaki dari orang
- orang awam yang sebenarnya belum benar - benar mengetahui hakekat dari mendaki
gunung. Toh, para pendaki gunung tetap berjalan dengan
tekad dan semangat yang kuat sambil menggendong carier dengan bangganya dan
berkata “Gunung Aku Datang”
Pernahkah orang berpikir bahwa
untuk mencapai puncak suatu gunung memerlukan suatu proses yang panjang dan
melelahkan namun dibalik setiap proses yang dilalui tersimpan hikmah perjalanan
hidup manusia dan bagaimana seseorang menghargai kehidupan.
Disinilah seorang pendaki akan
berproses dan proses inilah yang tidak dipahami dan dialami oleh orang awam lainnya.
Mungkin saja jika setiap orang memahami dan meresapi proses ini maka akan ramai
yang akan mendaki gunung serta berpetualang di alam bebas.
Banyak hal yang harus dilakukan
sebelum mendaki gunung, Salah satunya harus mengetahui keadaan
medan yang akan dilalui serta berapa lama perjalanan yang akan ditempuh.
Disinilah proses belajar itu dimulai, dimana kita mencoba memahami tempat yang
akan dilewati walaupun kaki kita belum pernah melangkah kesana sebelumnya.
Salah satu cara yang dapat
dilakukan untuk mengetahui keadaan medan yang akan ditempuh adalah mencari
informasi melalui mereka yang pernah kesana sebelumnya atau melalui informasi
media cetak seperti buku dan elektronik seperti internet.
Diperlukan ketelitian dalam
menyusun rencana perjalanan, agar semua dapat berjalan secara sistematis dan
tidak terjadi kesalahan - kesalahan yang tidak diinginkan bahkan dengan
perencanaan perjalanan yang buruk dan tidak teratur dapat mengakibatkan kematian
pendaki.
Maka dari itu setiap pendaki harus
lebih mengutamakan safety procedur tidak hanya berambisi ingin
segera sampai ke puncak namun persiapan sangat minim, hal demikianlah yang
seharusnya dihindari oleh seorang pendaki. Disinilah sebuah penghargaan
terhadap hidup jelas terlihat. Melewati sebuah medan yang cukup berbahaya
bahkan dapat merenggut nyawa namun dengan perencanaan dan
perlengkapan yang matang, seorang pendaki dapat dengan mantap melangkah menuju
puncak idaman.
Sebelum kaki melangkah menuju
puncak, kita kan menemukan sebuah perkampungan yang terletak tidak jauh dari
lokasi dimana sebuah gunung gagah berdiri. Perkampungan yang
sarat dengan kehidupan sederhana bahkan terkadang mengalami kekurangan namun
mereka tetap tidak melupakan budaya bangsa Indonesia yang telah lama hilang di
kota yaitu, gotong royong dan kekeluargaan.
Sangat kental terasa budaya itu
masih dianut oleh tiap - tiap penduduk kampung. Sifat yang ramah tamah.
Mereka tidak sibuk mengejar materi dengan melupakan tetangga bahkan keluarga,
mereka menjalin hidup dengan keterbatasan yang mereka miliki namun masih ingin
berbagi dan tolong menolong.
Potret kehidupan kampung ini
sangat membekas untuk tiap - tiap pendaki yang meresapinya bahkan ketika mereka
kembali ke kota. Keinginan untuk menjalani kehidupan perkampungan yang
sederhana itu sangat kuat, namun pengaruh dari luar serta sulitnya keadaan
ekonomi membuat rakyat kita lupa untuk saling berbagi dan tolong menolong.
Ketika mulai mendaki banyak
cobaan yang akan ditemui oleh seorang pendaki seperti rasa capek, dingin,
mengantuk, serta rasa ingin menyerah yang jika diikuti akan meninggalkan sesal
yang mendalam tapi disinilah proses penempaan itu.
Seorang pendaki gunung yang
menempa dirinya dengan kehidupan alam bebas yang buas namun
bisa sangat bersahabat jika kita benar - benar mencintainya. Dalam proses ini
pendaki belajar bagaimana bertahan hidup dengan perlengkapan seadanya serta
bagaimana cara membangun kerja sama team yang solid jika
pendakian dilakukan oleh lebih dari satu orang.
Ego harus dibuang jauh –
jauh karena sama sekali tidak akan membantu proses pendakian, bahkan malah
memperkeruh keadaan. Para pendaki juga belajar untuk saling
berbagi, berbagi tenda yang sempit, berbagi makanan yang seadanya serta saling
tolong menolong jika salah satu sedang mendapat kesusahan. Namun sesulit apa
pun yang mereka dapatkan perjalan itu tetap terasa nikmat dan akan sangat indah
jika dikenang dan mulut - mulut para pendaki yang mengatup menahan dingin akan
berguman “Terima Kasih Tuhan Atas Nikmat-Mu.”
Puncak adalah tujuan seorang
pendaki gunung, ketika mereka menapaki puncak tersebut akan didapati
pemandangan yang begitu luar biasa. Lukisan alam dari seorang pelukis ternama
pun tak dapat menyamai keindahan lukisan sang Maha Agung yang
nyata ini. Panorama yang akan menimbulakan rindu di setiap
hati yang melihatnya. Awan dapat terlihat dengan menundukan kepala ketika kita
berada di puncak. Mulut pun tak hentinya mengucapkan kekaguman akan keindahan
alam ciptaan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
Hendaknya para pemimpin
bangsa ini berkenan untuk mendaki gunung setidaknya berekreasi di alam
bebas di sela - sela kesibukan yang padat untuk melihat bagaiman kondisi rakyat
yang berada ditangannya dari dekat melalui sisi yang berbeda, atau setidaknya
mencoba meresapi kata - kata Soe Hok Gie diatas.
Sedangkan generasi muda yang
seyogyanya pewaris peradaban dan pemegang tongkat estafet kepemimpinan
bangsa ini harusnya bisa menikmati alam yang ditempatinya
dengan melewati proses yang semestinya memang harus dijalani sekaligus
menjaganya dan melindunginya. Karena mendaki gunung dan berpetualang
di alam bebas membentuk seorang pemimpin yang berkarakter yang peduli
kepada rakyatnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar