Kamis, 28 Juni 2012

Riyanni Djangkaru: ”Memilih Diving Karena Takut Kuntilanak”


Bagi penggemar dunia petualang, nama Riyanni Djangkaru mungkin sudah tidak asing lagi. Wanita cantik kelahiran Bogor Jawa Barat, 31 tahun yang lalu namanya mulai melejit lewat ’Jejak Petualang’. Sebagai presenter petualangan, Riyanni dituntut untuk menguasai jenis medan baik pada saat shooting di darat, maupun di laut. Kecintaannya pada dunia laut khususnya menyelam berawal dari pilihan hati, ketika harus memilih bekerja di darat atau dilaut. Menurut Riyanni pilihan terhadap kecintannya kepada diving ketimbang naik gunung karena memang laut tidak harus memanjat.
”Pilihan terhadap diving setelah bertahun-tahun berawal di jejak petualang, aku coba semua aktivitas petualang mulai dari memanjat gunung sampai menyelam,” kata Riyanni kepada Indonesia Maritime Magazine.
Jatuh cinta terhadap diving diakui oleh wanita keturunan Garut dan Palembang ini ketika mengalami cidera lutut dan tulang punggung, yang tidak memungkinkan untuk naik gunung atau sepeda. Jadi olahraga yang memungkinkan pasca cederanya yaitu dengan menyelam.
“Buat aku andrenalin masih sangat terasa Ternyata setelah aku telusuri aku fokuskan untuk menyelam. Aku lebih cocoknya di laut daripada di gunung atau daratan, terutama dengan cedera-cedera yang aku alami. Dari situ aku kosentrasi dan fokus, ya sudah aku konsen menyelam,” ungkapnya.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor ini mengaku bahwa linsensi menyelam yang ia dapatkan  pada tahun 2003, tapi mulai aktif menyelam pada tahun 2006 pasca cedra lututnya sembuh. “Aku dapat lisensi itu tahun 2003, tapi aku konsen setelah cedra lutut itu tahun 2006,” ujarnya. Ditanya mengenai adakah hal menarik dalam menyelam, Riyanni mengakui bahwa menyelam tersebut bisa dikatakan seperti meditasi, seperti penyembuhan cederanya. Bahkan pilihan terhadap menyelam itu karena didasari oleh rasa takut akan dunia ghaib.
“Aku pikir kalau di dalam laut itu tidak ada kuntilanak, tapi ternyata ada juga. Bagi aku menyelam itu rasanya seperti meditasi karena suasana berbeda, bagaimana kita bisa memahami cara kita untuk bernapas, cara kita napak dan apa yang kita pegang, kalau di darat itu sama aja kaya kesaharian, tapi kalau di dalam laut rasa tenang yang berbeda, itu yang paling aku suka,” tegasnya.
Dari tahun 2006 tersebut sudah puluhan bahkan ratusan tempat wisata bahari yang sudah dikunjunginya. Namun bagi Riyanni tempat yang paling menarik dan berkesan itu di Pulau Alor dan Raja Ampat. “Bagi saya sih semua menarik, semua berbeda-beda namun bagi aku yang paling pavorit yaitu di Pulau Alor NTT dan Pulau Raja Ampat di Papua,” tandasnya.
“Pisau Hampir Merenggut Nyawanya”
Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dialami oleh Riyanni sewaktu me­nye­lam, mulai dari terbawa arus sampai masuk ke kandang hiu. “Yang paling berkesan ketika aku akan shooting, pisauku jatuh, menurut pelatihku dalamnya itu cuma 40 meter, aku pikir 40 masih bisa aku kejar, tapi setelah dipikir ulang itu hanya pisau dengan harga berapa ratus ribu saja, diripada harus membahayakan diri sendiri aku pilih tidak aku ambil,” kata Riyanni.
Keputusannya untuk mengambil pisau tersebut dinilai sangat tepat, karena ternyata dibawahnya itu ada jenis hiu banteng yang juga  lebih dikenal dengan nama Hiu Zambezi. Hiu Banteng itu salah satu jenis hiu yang lumayan agresif, dimana hiu itu sangat menjaga teroterialnya. “Biasanya dia itu ga suka kalau ada orang asing atau makhluk asing, jadi pas banget dibawah itu aku liat ada kaya sekelebatan besar aku pikir apa, ya udah aku naik lagi. Dan itu emang dingetin bahwa dibawah itu ada bulsha. Jadi kalao saya maksain sok tau masuk kebawah, bela-belain pisau tapi nyawa terancam,” bebernya.
Ada pesan khusus bagi para penyelam pemula dimana Riyanni mengaku bahwa jangan pernah jumawa atau sombong ketika melakukan aktivitas yang berbau alam. Menurut Riyanni manusia akan merasa sangat  kecil baik itu di gunung maupun di laut. ”Kita rasakan ternyata kuasa tuhan sangat luar biasa, aku pribadi sih ngerasa ketika kita dibawah laut, kita kecil sebesar kuman itu jauh lebih besar karena ternyata pengetahun kita soal laut itu belum tentu ada 1 persen”, Pungkas Ryanni yang sudah melakukan penyelaman sebanyak 600 kali, dan tidak kapok untuk menyelam lagi meski ada kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar